Perdagangan IHSG pada awal pekan masih melanjutkan koreksi yang terjadi pada minggu sebelumnya. Tidak semua sektor yang mengalami pelemahan, sektor properti dan infrastruktur masih berada pada teritori positif. Sektor properti naik 0,13% ke level 162 dan sektor infrastruktur naik 0,51% ke level 687. IHSG melemah 0,72% ke level 2.456.
Naiknya indeks Dow Jones ternyata tidak mampun mengangkat kenaikan indeks. Indeks lebih dipengaruhi faktor dari dalam negeri yang ternyata lebih dominan pada perdagangan kemarin. Rupiah yang terus menguat hingga mencapai level 9.368, ternyata ikut terkoreksi juga, walau koreksi yang terjadi lebih disebabkan intervensi Bank Indonesia yang tidak menginginkan rupiah terlalu cepat menguat, yang dikhawatirkan akan menggangu kinerja impor dalam negeri yang belum kembali normal.
Naiknya harga elpiji ukuran 12 kg dan 50 kg oleh Pertamina yang akan berdampak langsung pada industri makanan menjadi sentimen negatif bagi pergerakan indeks. Pertamina menginginkan harga elpiji hingga ke tingkat harga keekonomian, berarti Pertamina harus menaikkan harga jualnya sebesar Rp2.500 per kg, namun hal tersebut dilakukan secara bertahap dengan menaikkan harga elpiji sebesar Rp100 per kg.
Walau kenaikannya hanya Rp100 per kg namun dengan adanya kenaikan tersebut akan meningkatkan biaya produksi diatas 20%. Rencananya harga elpiji tersebut akan mengikuti harga pasar seperti harga BBM industri yang harganya bisa naik atau turun tergantung harga yang terbentuk dipasaran. Kenaikan itu sendiri belum dipastikan apakah akan naik setiap bulannya atau tidak.
Indeks BISNIS-27 turun 0,69% ke level 223. Indeks Hang Seng turun 0,93%% ke level 21.299, Strait Times Singapura naik 1,05% ke level 2.680, dan indeks Nikkei 225 juga naik 1,87% ke level 10.016.
Senin, 12 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar