Setelah seminggu terakhir IHSG tertekan, akhirnya pada perdagangan kemarin, IHSG menguat 0,62% ke level 2.471. Semenjak awal perdagangan dibuka, IHSG telah mengalami penguatan bahkan sempat berada pada posisi 2.485, namun terhempas kembali walau masih berada dalam teritori positif.
Penguatan minyak mentah yang mencapai US$73,27 per barel atau naik 2,09% di perdagangan kontrak berjangka New York membuat IHSG terkena imbas positif. Kenaikan yang dipicu oleh musim dingin yang menimpa negara Amerika Serikat (AS) mendorong permintaan akan bahan bakar pemanas. Rencana Arab Saudi, sebagai pemasok minyak terbesar dunia, yang rencanya akan mengurangi pasokan pada bulan November nanti semakin mendongkrak harga minyak.
Penguatan rupiah juga turut ambil andil bagi penguatan indeks. Rupiah naik 0,29% ke level Rp9.452. Kenaikan rupiah ini tentu saja akan memberikan stimulus bagi importir kita, dimana mereka akan bisa lebih besar membeli bahan baku impor dan diekspor kembali dengan biaya yang lebih kecil karena apresiasi rupiah. Hal ini juga dipicu masih banyaknya dolar yang beredar di AS karena kebijakan The Fed yang masih belum merubah keputusannya terkait dengan suku bunga acuan negara tersebut, yang hampir mendekati nol. Suku bunga The Fed saat ini 0,25%. Tindakan yang dilakukan The Fed justru mendorong nilai dolar semakin terdepresiasi.
Indeks BISNIS-27 naik 0,62% ke level 225. Indeks Hang Seng naik 0,79%% ke level 21.467, Strait Times Singapura turun 0,45% ke level 2.668, dan indeks Nikkei 225 juga naik 0,60% ke level 10.076.
Selasa, 13 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar