Pengumuman inflasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tidak dapat mengangkat IHSG, namun dijadikan aksi profit taking oleh pelaku pasar. BPS mengumumkan inflasi Agustus sebesar 0,56%. Sementara IHSG ditutup melemah 0,62%, ke level 2.326. Penurunan yang terjadi berbanding terbalik dari bursa regional yang cenderung mengalami kenaikan.
Inflasi yang terjadi selama bulan Agustus ditenggarai akibat naiknya kelompok barang makanan yang naik 1,29% disusul kelompok makanan jadi, minuman dan rokok naik 0,3%. Kenaikan yang telah diprediksi sebelumnya dan bersifat musiman karena faktor bulan puasa telah diantisipasi oleh pasar hingga tekanan jual lebih besar dari pada pembelian. Kenaikan inflasi yang lebih tinggi dibandingkan bulan Juli mengindikasikan akan tertahannya penurunan kembali BI Rate untuk sementara waktu.
Indeks Dow Jones yang turun pada penutupan Senin kemarin memberikan stimulus bagi turunnya IHSG. Saham-saham AS di Wall Street turun karena tekanan jual yang kuat di bursa saham China ditambah kekhawatiran tentang prospek pemulihan ekonomi global dari resesi yang curam. Indeks Dow Jones turun 0,5% ke level 9.496. Indikator-indikator positif yang dirilis baru-baru ini seperti indeks pembelian manajer yang naik ke titik 50, data consumer sentiment indeks, dan consumer confident tidak mampu menopang penguatan indeks.
Volume perdagangan di lantai bursa tercatat mencapai 3,9 miliar unit saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 3,06 triliun. Indeks BISNIS-27 turun 0,77% ke level 208. Sementara untuk indeks saham LQ-45 turun 0,77% ke level 452,73 dan indeks saham JII turun 0,67% ke level 378,08.
Selasa, 01 September 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar