Indeks mengalami penurunan lagi. Pada penutupan akhir pekan, IHSG ditutup melemah 1% ke posisi 2.063. sentimen positif yang menyertainya tak mampu mengangkat indeks. Indeks hanya menguat pada pembukaan hari Kamis setelah pilpres 2009 telah berlangsung pada hari sebelumnya.
Pada awal pekan lalu, investor cenderung untuk wait and see melihat hasil pilpres yang akan diselenggarakan pada Rabu, tanggal 8 Juli 2009. Ekspektasi yang berkembang selama ini mengharapkan supaya SBY, selaku Presiden saat ini akan terpilih lagi. Selama ini pasar menilai SBY telah mampu mempertahankan perekonomian Indonesia sebesar 4,5% sementara dunia masih terkontraksi -1,3%.
Belum lagi kisruh mengenai DPT yang masih diperdebatkan oleh masyarakat mengakibatkan pelaku pasar menjadi selektif dalam pembelian saham dan cenderung merealisasikan profit taking, khawatir pilpres tidak semulus yang dibayangkan.
Pada pembukaan Kamis, IHSG memang naik, tetapi kenaikan tipis yang terjadi merupakan anomali terhadap prediksi dari beberapa kalangan bursa yang menilai bullish akan terjadi setelah pilpres. Kenyataannya, IHSG bisa dibilang tidak mempunyai kekuatan lagi untuk terus naik.
Secara teknikal memang IHSG akan naik, namun secara fundamental, valuasi bursa telah tinggi dengan nilai PER 27 kali. Nilai PER yang baik adalah jika berada pada rentang 10 kali sampai 20 kali. Dibawah 10 kali maka bursa dinilai undervalued, sebaliknya di atas 20, bursa akan dinilai overvalued.
Penurunan IHSG selama beberapa hari terakhir juga tidak terlepas dari mulai keluarnya capital outflow dari emerging markets, indeks MSCI Asia Pacific yang mengukur peforma bursa saham Asia Pacific telah turun 1,5% ke posisi 100.61.
Jumat, 10 Juli 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar