Pilpres baru saja dilaksanakan, namun tampaknya ekspektasi yang selama ini terjadi di pelaku pasar mengenai pilpres satu putaran saja, tak memberikan respon yang begitu besar bagi pergerakan IHSG. Pada awal perdagangan, IHSG menguat ke posisi 2.114, namun dalam perjalanannya terkena profit taking, hingga dari sesi satu dan dua, IHSG berjalan secara tertatih-tatih di sekitar harga penutupan kemarin, hingga akhirnya IHSG hanya menguat tipis 0,03% saja ke posisi 2.083.
Berdasarkan quick count yang dilakukan oleh beberapa lembaga surveyor independen, diperoleh hasil yang cukup mengejutkan, dengan SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) sebagai pemenang pilpres dengan mengantongi rata-rata 60% suara. Indikasi akan menangnya SBY dalam pilpres kemarin. Hal ini tentu saja berbeda dari prediksi sebelumnya bahwa pilpres akan berlanjut ke putaran dua, namun walaupun begitu tidak berdampak besar bagi pergerakan indeks. Walaupun quick count menyatakan SBY yang menang, namun validitas dari survey tersebut masih dipertanyakan oleh beberapa pihak, hingga akan lebih baik jika kita menunggu hasil pilpres dari KPU (Komisi Pemilihan Umum) yang lebih berwenang.
Secara fundamental nilai PER (Price Earning Ratio) bursa kita sebenarnya telah naik mencapai 27 kali hingga menyebabkan secara rata-rata saham yang berada di bursa telah dinilai mahal, hingga investor umumnya lebih memilih menjual saham-saham yang telah mereka miliki untuk mendapatkan capital gain, menunggu PER turun kembali. Sebagai perbandingan nilai PER bursa selama lima tahun terakhir berkisar 17 kali.
Nilai normal bagi PER yang baik untuk sebuah investasi umumnya berada pada kisaran PER 10-20 kali. Jika ternyata melebihi dari 20 kali berarti telah dinilai overvalued, sebaliknya jika kurang dari 10, maka telah dinilai undervalued.
Kamis, 09 Juli 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar