Pergerakan IHSG kemarin sangat fluktuatif. Dibuka menguat 0,25% pada pembukaan sesi 1, IHSG diserang profit taking dan kembali melemah ke posisi 1.993. Namun perlahan IHSG naik dan menyentuh posisi tertingginya pada perdagangan kemarin yakni 2.007. Secara keseluruhan IHSG menguat 0,61% dan kembali menyentuh level psikologis baru yakni posisi 2.010.
Membaiknya bursa Wallstreet terkait dengan data perumahan di Amerika Serikat mendorong pergerakan DJIA pada perdagangan kemarin. Selain itu harga minyak yang telah melewati US$65 turut membantu kenaikan. DJIA ditutup pada level 8.740, menguat 0,22%.
Aliran dana ke bursa negara-negara berkembang telah mencapai Rp123 triliun. EPFR global mencatat aliran dana tersebut setara dengan 7,79% dari kapitalisasi Bursa Efek Indonesia yang pada perdagangan sehari sebelumnya telah mencapai 1.579 triliun. Banyaknya dana yang masuk ke emerging markets lebih disebabkan masih bagusnya perekonomian negara-negara emerging markets di tengah himpitan krisis global yang melanda dunia.
Selain itu penguatan rupiah juga turut membantu sentimen positif bursa. Data bloomberg menyebutkan rupiah pada posisi 10.177, menguat 1,38%. Apresiasi rupiah terdorong oleh menguatnya investasi emas sebagai investasi alternatif seiring investasi dalam dolar yang kian hari kian terdepresiasi.
Ekspetasi BI rate yang turun sebesar 25 basis poin menjadi 7% telah diantisipasi pasar hingga turut juga mempengaruhi posisi indeks. Dengan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 4,4% selama triwulan 1 dan diprediksi akan mengalami pertumbuhan 3-4% per tahun akhirnya Bank Indonesia menurunkan BI rate.
Selasa, 30 Juni 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar