Selasa, 30 Juni 2009

Analisa Indeks 18 Juni 2009

IHSG kembali terpuruk. Pada perdagangan bursa kemarin, Semenjak pembukaan, IHSG terus tertekan. Konsolidasi yang berlebihan dari pelaku pasar karena ketakutan indeks turun lebih tajam lagi menyebabkan mereka menjual saham-saham yang dimilikinya sebagai sikap antisipatif dari kerugian yang lebih besar lagi didepannya. HISG ditutup melemah 3,65% ke posisi 1.950.

Koreksi yang terjadi semenjak tanggal 11 Juni 2009, belum menampakkan tanda-tanda akan adanya rebound (kenaikan indeks). IHSG telah terkoreksi -6,65% semenjak posisi tertingginya pada 10 Juni 2009, yang pada saat itu indeks berada di posisi 2.108.

Sentimen-sentimen negatif yang menghadang kenaikan indeks cukup banyak. Pelemahan bursa yang akhir-akhir ini terjadi akibat optimisme yang berlebihan ternyata tidaklah sesuai dengan yang diharapkan semula. Data industri manufaktur Newyork di Amerika Serikat yang menunjukkan penurunan semakin menguatkan pesimisme pelaku pasar bahwa belum saatnya bagi krisis finansial ini berlalu.

Wacana yang dikemukan oleh negara-negara BRIC (Brazil, Rusia, India dan Cina) tentang perlunya mata uang cadangan global baru membuat krisis finansial tekanan terhadap dolar AS. Ketergantungan yang berlebihan terhadap dolar tersebut akan memicu instabilitas perekonomian dunia. Rusia menganjurkan agar negara-negara lain mulai beralih ke Yuan China atau Rubel Rusia yang dapat menjadi mata uang cadangan selain dolar. Walaupun begitu, hal tersebut tidak bisa dilakukan sesegera mungkin karena masih bagusnya fundamental dolar saat ini.

Perdagangan kemarin mencatat frekuensi 116.154 kali transaksi pada volume 9.287 juta lembar saham senilai Rp 4,248 triliun. Penurunan terbesar diperoleh dari sektor aneka industri sebesar 7,41%, disusul sektor pertambangan yang turun 5,54%, perkebunan 4,7%, manufaktur 3,7% dan keuangan 3,3%.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar