Selasa, 30 Juni 2009

Analisa Indeks 12 Juni 2008

Penguatan komoditas dalam seminggu terakhir memberikan sentimen positif bagi IHSG. Harga Minyak dunia untuk kontrak Juli di bursa berjangka New York menempati posisi tertingginya semenjak Oktober tahun lalu yang kini telah mencapai US$72,68 per barel hingga IHSG menguat 0,06% ke posisi 2.090.

Harga minyak telah naik hampir dua kali lipatnya semenjak Maret dan menumbuhkan optimisme baru karena keyakinan investor akan membaiknya resesi yang menimpa Amerika Serikat seiring dengan adanya estimasi dari Badan Energi Internasional (IEA) menaikkan estimasinya untuk permintaan global petama kalinya dalam beberapa bulan terakhir.

Estimasi terakhir menyebutkan adanya permintaan minyak global menjadi 83,3 juta barel per hari pada tahun ini yang pada bulan lalu permintaannya hanya mencapai 83,18 juta barel saja. Namun ada indikasi penguatan yang terjadi lebih disebabkan adanya spekulasi dibandingkan permintaan minyak yg sebenarnya, terlihar adanya likuiditas besar-besaran dari bank-bank sentral global ke dalam investasi kontrak berjangka minyak.

Sentimen positif lainnya yang membantu pergerakan indeks dengan naiknya peringkat outlook Indonesia dari peringkat “Ba3” dari “stabil” ke “positif” oleh lembaga pemeringkat Moody’s Investor Service. Naiknya peringkat ini tentu saja mengurangi resiko Indonesia sebagai tujuan investasi. Perbaikan yang terjadi didorong oleh membaiknya permintaan domestik dan tidak terlalu rentannya dari perdagangan global dan guncangan finansial hingga diproyeksi akan bertumbuh 4% selama tahun 2009.

Hal yang berkebalikan terjadi terhadap indeks BISNIS-27 dengan turun anomali selama 2 hari terakhir terhadap penguatan IHSG. Pada penutupan kemarin indeks BISNIS-27 ditutup melemah 0,09% ke posisi 187. Saham-saham perbankan menopang penurunan indeks BISNIS-27. Terlihat selama sepekan, saham sektor keuangan turun -1,86%. Saham pertambangan yang menjadi primadona selama sepekan, justru menyelamatkan indeks BISNIS-27 dengan penguatan dalam 5 hari terakhir merupakan penguatan tertinggi dibandingkan sektor lainnya, yang menguat 5,42%.

Pelaku pasar sebaiknya bersikap wait and see terhadap aksi beli yang akan dilakukan, karena saham-saham di bursa saham telah memasuki kondisi overbought (jenuh beli), tinggal menunggu koreksi berikutnya. Akan lebih baik lagi jika mereka menunggu sentimen positif berikutnya. Secara fundamental perekonomian kita masih bagus, dan diharapkan dapat bertumbuh 4% per tahun dengan tingkat inflasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar