Selasa, 30 Juni 2009

Analisa 26 Juni 2009

IHSG terkoreksi wajar pada penutupan akhir pekan, anomali dengan penutupan bursa regional yang rata-rata menguat. Kuatnya profit taking pada penutupan akhir pekan membuat indeks ditutup melemah 0,19% ke level 2.040. Koreksi yang wajar mengingat selama 2 hari terakhir ini telah naik 6,78%, bahkan IHSG sebenarnya semenjak awal pekan telah menguat 2,37%.

Indeks Dow Jones selama sepekan terus tertekan dengan banyaknya sentimen negatif yang mengelilinginya. Penurunan impor negara China akan serat kapas dari negara Amerika menyebabkan indeks DJIA turun. Komite kebijakan The Fed yang tetap mempertahankan suku bunga acuannya turut serta memberikan tekanan kepada dolar. Likuiditas dolar yang semakin banyak di pasar akan mendorong depresiasi mata uang tersebut dibandingkan dengan mata uang negara lain. Pada perdagangan valas akhir pekan, rupiah mengalami penguatan 0,29% ke 10.230 per dolar AS.

IHSG tidak terkoreksi jauh pada penutupan akhir pekan juga dengan adanya kabar baik dari Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) yang menyatakan penjualan sepeda motor selama Mei 2009 mengalami kenaikan 18,6% menjadi 457.650 unit, dengan posisi penjualan terbanyak didominasi oleh Honda, lalu diikuti oleh Yamaha, dan Kawasaki.

Walaupun IHSG terkoreksi, namun penguatan masih tetap akan berlanjut. Walau Bank dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi negara berkembang tahun 2009 hanya mencapai 5,9%, turun jauh dibandingkan tahun 2008 yang tumbuh 8,1%, namun untuk Indonesia proyeksi itu naik dari 2,5% menjadi 3,5%.

Selain itu valuasi saham yang masih dinilai rendah dibandingkan negara di kawasan Asia Timur, membuat investasi di negara kita masih bagus sebagai tujuan investasi. Price Earning Ratio (PER) bursa saham kita baru mencapai 23 kali, masih tergolong murah dibandingkan kawasan asia timur yang rata-rata berkisar 25–30 kali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar