Jumat, 07 Agustus 2009

Analisis IHSG Sepekan

IHSG ditutup melemah pada akhir pekan. Koreksi yang terjadi, akibat pelaku pasar yang sementara waktu lebih memilih sikap antisipatif terhadap pergerakan bursa. Belum ada lagi sentiment-sentimen yang mampu membangkitkan pergerakan bursa, jadi sikap yang dipilih banyak pelaku pasar adalah wait and see, hingga timbul sentiment baru lagi. IHSG ditutup melemah 0,46% ke level 2.349.

Koreksi yang terjadi pada IHSG tidak menyebabkan pola pergerakan IHSG yang masih dalam kondisi bullish (menguat) terganggu. Selama sepekan ini, IHSG telah naik 1.08%, dan sempat menyentuh level 2.382 pada perdagangan hari Selasa, namun terus terkoreksi secara wajar dan ditutup melemah pada level 2.360. Kondisi ini terus berlanjut pada keesokan harinya, dimana IHSG kembali ditutup melemah 1,8% ke level 2.317. Pada perdagangan Kamis, IHSG justru menguat kembali, namun penguatan itu tidak berlangsung lama dan IHSG pada akhir pekan harus terkoreksi kembali ke 2.349.

Pengumuman BI rate oleh Bank Indonesia belum cukup mampu mengangkat indeks lebih tinggi lagi. Pengurangan 25 basis poin BI rate menjadi 6,5% telah sesuai dengan harapan pasar, sehingga terjadinya penurunan tersebut tidak begitu berpengaruh pada IHSG, karena penurunan yang terjadi masih belum memberikan stimulus bagi suku bunga kredit untuk turun mengikuti BI rate, walaupun sejumlah bank swasta nasional telah sepakat untuk menurunkan suku bunga kreditnya, namun secara keseluruhan suku bunga kredit masih tinggi. Kekhawatiran terjadinya default di sektor riil yang membayangi pinjaman yang diberikan dan sikap antisipatif dari bank-bank nasional, membuat bank masih berhati-hati menurunkan suku bunga kreditnya.

Pidato Presiden SBY mengenai asumsi RAPBN 2010 yang dinilai pelaku pasar tidak memiliki asumsi yang mendasar, karena harusnya asumsi yang diberikan dapat lebih tinggi, membuat IHSG sempat terpuruk pada perdagangan hari Rabu. Pemerintah mengasumsikan tingkat pertumbuhan perekonomian negara hanya mencapai 5% saja dan nilai tukar rupiah dipatok pada Rp10.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Menurut beberapa pelaku pasar, harusnya pertumbuhan kita bisa mencapai rentang 6%-8%, seiring dengan pulihnya perekonomian global yang diprediksi akan terjadi pada tahun 2010.

Harga minyak yang kembali melewati US$70 per barel mengangkat saham-saham sektor pertambangan pada perdagangan sepekan terakhir. Rupiah ditutup menguat tipis, 0,05% berada pada level Rp9.900 per dolar AS dan indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk kawasan Asia Pasifik naik ke level 112.54, yang berarti adanya aliran masuk yang tinggi ke regional tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar