Pengumuman data inflasi bulan Juni 2009 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar 0,11% mendongkrak kinerja IHSG kemarin hingga rebound (menguat) 1,63% ke posisi 2.059. Secara year on year (Juni 2009 terhadap Juni 2008) laju inflasi hanya 3,65%, lebih baik dari prediksi Bank Indonesia (BI) yang memprediksikan 3,8%.
Saham-saham sektor perbankan mengalami kenaikan setelah data inflasi dirilis. Ekspektasi akan turunnya kembali BI rate juga menyebabkan pelaku pasar memburu saham-saham sektor infrastruktur. Dengan turunnya BI rate diharapkan suku bunga kredit juga akan turun, dan pada akhirnya sektor properti akan mulai bertumbuh kembali.
Masih tingginya suku bunga di Indonesia menarik minat pelaku pasar untuk menanamkan investasinya di bursa. Jika dibandingkan dengan suku bunga di (Amerika Serikat) AS saja telah terjadi disparitas (perbedaan) sebeasar 5% dari suku bunga kita. Hal ini tentu saja membuat daya tarik bagi pelaku pasar, selain dari masih bagusnya pertumbuhan ekonomi kita.
Banyak perubahan yang terjadi di negara-negara emerging markets, hingga indeks MSCI Emerging Markets naik 35% sejak akhir Maret lalu, mengalahkan kenaikan indeks MSCI World yang hanya naik 21%. China, sebagai salah satu negara tersebut, mulai mengalami perubahan dan diharapkan akan berperan besar dalam perekonomian global. Pemerintahan China mulai memberikan insentif bagi perusahaan lokal agar bisa go public.
Nilai transaksi sebesar Rp5,95 triliun dengan transaksi tutup sendiri PT Bank Central Asia (BBCA) yang tercatat mencapai Rp3,5 triliun hingga saham BBCA naik 2,1% menjadi Rp3.600 per lembar sahamnya.
Rupiah kembali mengalami tekanan dengan turun 0,14% menjadi 10.222. Turunnya rupiah semenjak data konsumen dari AS menunjukkan lebih rendah dari sebelumnya serta jatuhnya sektor manufaktur Jepang. Hal ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran baru bagi pemulihan perekonomian global.
Rabu, 01 Juli 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar