Perdagangan awal pekan ini, IHSG mengalami koreksi, khususnya pada saham-saham sektor pertambangan yang dinilai pelaku pasar sudah cukup tinggi mengalami kenaikan. Pada Sesi 1, IHSG sempat menyentuh posisi 2.093, namun pada perdagangan sesi ke 2, ISHG diterjang koreksi terus-menerus hingga akhirnya melemah 1,07% ke posisi 2.056.
Penurunan yang terjadi sangatlah diperlukan untuk IHSG melesat naik lebih tinggi lagi. Jika hal ini tidak terjadi, dikhawatirkan ketika terjadi reversal dari tren bullish, akan menyebabkan IHSG terpuruk justru semakin dalam.
Harga minyak dunia untuk kontrak Juni terkena koreksi dan ditutup melemah ke US$68,44 per barel setelah pada pekan kemarin sempat menyentuh level US$70 per barel, kenaikan tertinggi untuk pertama kalinya dalam bulan terakhir. Penurunan ini memberikan tekanan yang cukup besar bagi IHSG seiring dengan melemahnya bursa dunia dan regional.
Rupiah juga mengalami tekanan pada perdagangan awal pekan ini. Dari data bloomberg, rupiah ditutup melemah pada level 10.025, padahal pada penutupan pekan lalu rupiah sempat menyentuh level psikologis 10.000. Banyaknya uang panas yang mengalir dalam beberapa hari terakhir telah mengangkat rupiah, hingga akhirnya pada perdagangan kemarin rupiah diterjang aksi profit taking.
Masih tingginya bunga BI rate dan surat utang yang masih diatas 10% memberikan daya tarik bagi pelaku pasar luar untuk mencari return yang tinggi sementara negara-negara lain cenderung menurunkan suku bunga acuannya, bahkan di AS sendiri suku bunga The Fed telah mencapai 0% sebagai stimulus menggerakan perekonomian negaranya yang dalam beberapa bulan terakhir dilanda krisis keuangan akibat subprime mortgage.
Bursa dunia dan regional bergerak mixed. Indeks DJIA menguat tipis 0,15% ke posisi 8.763. Indeks regional Hang Seng turun 2,28% ke posisi 4.383. Indeks STI Singapura juga turun 2,61% ke posisi 2.333. Sementara indeks Nikkei-225 justru mengalami kenaikan 1% dan ditutup pada level 9.865.
Selasa, 30 Juni 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar